Ad Code

DomaiNesia

Menghabiskan Akhir Pekan di Garut, Menikmati Hangatnya Darajat Pass hingga Nostalgia Tak Terduga di Sukaregang


Garut selalu punya cara tersendiri untuk membuat siapa pun ingin kembali lagi. Kota yang dikenal dengan panorama pegunungan, kuliner khas, dan sentra kerajinan kulit ini memang menawarkan pengalaman wisata yang lengkap. Tidak hanya menghadirkan udara sejuk dan suasana tenang, Garut juga menyimpan banyak cerita menarik di setiap sudutnya. Itulah yang saya rasakan ketika berkesempatan melakukan perjalanan bersama teman-teman menuju salah satu daerah favorit di Jawa Barat tersebut.

Perjalanan menuju Garut kami tempuh hingga larut malam. Udara dingin mulai terasa ketika kendaraan memasuki kawasan Darajat. Lampu-lampu kecil dari rumah warga dan penginapan terlihat menemani perjalanan kami menuju homestay yang berada tidak jauh dari Darajat Pass. Karena kondisi tubuh yang sudah cukup lelah setelah perjalanan panjang, kami memutuskan untuk langsung beristirahat agar keesokan harinya bisa menikmati suasana Garut dengan lebih maksimal.

Kawasan Darajat Pass Garut 

Pagi hari di kawasan Darajat benar-benar terasa menyegarkan. Kabut tipis masih terlihat menyelimuti area pegunungan, sementara udara dingin menusuk kulit dengan khasnya suasana dataran tinggi Garut. Setelah menikmati secangkir kopi hangat, kami langsung menuju Darajat Pass untuk berendam di kolam air panas alami yang menjadi daya tarik utama tempat wisata ini.

Berendam di Darajat Pass memang selalu menghadirkan pengalaman yang sulit dilupakan. Hangatnya air alami berpadu dengan udara pegunungan yang sejuk menciptakan sensasi relaksasi yang sempurna. Dari area kolam, hamparan pemandangan hijau terlihat begitu menenangkan mata. Tidak heran jika tempat ini selalu ramai dikunjungi wisatawan, baik dari dalam maupun luar kota. Kami menikmati waktu cukup lama di sana, mulai pagi hingga menjelang siang sambil bercanda dan menikmati suasana santai bersama teman-teman.

Setelah puas menikmati kehangatan Darajat Pass, perjalanan dilanjutkan menuju pusat kerajinan kulit Sukaregang. Namun sebelum tiba di tujuan utama, kami memutuskan mampir terlebih dahulu ke Rumah Makan Lestari yang berada di Jalan Cikuray Garut. Tempat makan ini cukup nyaman untuk beristirahat sekaligus mengisi energi setelah seharian berendam.


Memilih menu di Rumah Makan Lestari Garut

Berbagai menu khas Sunda tersaji dengan cita rasa yang menggugah selera. Suasana makan bersama teman-teman di tengah udara sejuk Garut terasa semakin nikmat. Momen sederhana seperti ini justru sering kali menjadi bagian paling berkesan dalam sebuah perjalanan. Obrolan santai, canda tawa, dan suasana hangat kebersamaan membuat waktu makan terasa begitu menyenangkan.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Sukaregang Leather Center, salah satu ikon industri kreatif yang cukup terkenal di Garut. Kawasan ini dikenal sebagai sentra kerajinan kulit dengan berbagai produk berkualitas seperti jaket, tas, sepatu, dompet, hingga aksesori lainnya. Saat berkeliling, saya melihat bagaimana geliat ekonomi kreatif di Sukaregang masih terus berkembang dan menjadi bagian penting dari identitas Garut.


Sukaregang Leather Center Garut

Berkunjung ke Sukaregang bukan hanya soal belanja produk kulit, tetapi juga melihat bagaimana sebuah industri lokal mampu bertahan dan terus berinovasi. Banyak pelaku usaha yang tetap menjaga kualitas produk sekaligus mengikuti perkembangan tren pasar. Hal itu membuat industri kulit Garut tetap memiliki daya tarik tersendiri di tengah persaingan produk modern saat ini.

Di sela-sela kunjungan tersebut, ada satu momen tak terduga yang justru menjadi cerita paling berkesan dalam perjalanan kali ini. Saya bertemu kembali dengan Pak Budi BZ, rekan sekaligus atasan saat dulu bekerja di perusahaan leasing di Bandung sekitar 15 tahun yang lalu. Sebuah pertemuan yang benar-benar tidak direncanakan, namun terasa begitu hangat dan penuh nostalgia.

Kami pun berbincang cukup lama mengenang masa-masa bekerja dahulu. Alhamdulillah, kini beliau menekuni usaha kuliner dengan membuka “Baso Rachman” yang lokasinya tidak jauh dari Sukaregang Leather Center. Melihat beliau tetap semangat membangun usaha sendiri tentu menjadi inspirasi tersendiri bagi saya. Terkadang perjalanan bukan hanya membawa kita ke tempat-tempat baru, tetapi juga mempertemukan kembali dengan orang-orang lama yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup.


Bertemu dengan sahabat Pak Budi BZ 

Perjalanan singkat ke Garut ini akhirnya memberikan banyak pengalaman yang sulit dilupakan. Mulai dari menikmati hangatnya Darajat Pass, mencicipi kuliner khas Sunda di RM Lestari, melihat perkembangan industri kulit di Sukaregang, hingga bertemu kembali dengan rekan lama setelah belasan tahun berpisah.

Garut memang bukan hanya soal wisata alam yang indah, tetapi juga tentang cerita, kehangatan, dan kenangan yang tercipta di setiap perjalanan. Kota ini selalu punya alasan untuk dirindukan dan layak menjadi destinasi wisata favorit bagi siapa saja yang ingin menikmati suasana tenang dengan pengalaman yang berkesan.

Posting Komentar

15 Komentar

  1. Pernah beli dompet di Garut sekitar 10 tahun lalu. Lebih mungkin. Dan sampai sekarang, masih awet itu dompetnya, cuma bosen aja pakenya.

    BalasHapus
  2. Produk kulit di Sukaregang lebih awet daripada di kota sini kang de, tos lami hoyong gentos jaket, tapi teu acan kami dalam deui ka Sukaregang hahahaha.

    Kabayang nya kang de eta tirisna di Darajat pass duh, sambut dobel ge sigana angger tiris nya

    BalasHapus
  3. Masha Allah, indah pisan sekitaran
    Darajat Pass ada kabutnya. Udara segar khas Garut banget ya. Kebayang betapa nyamannya di sekitaran Darajat Pass.

    Nah, lanjut makan di warung Sunda dengan Makana yang menggugah selera. Lalu melihat betapa kerennya industri lokal berinovasi dan survive di era sekarang. Barakallah, ketemu bos di tempat kerja lama dulu ya. Jadi silaturahmi mendadak dan rupanya si Bapak punya usaha kuliner, mantap sekali.

    Liburan yang komplit dan berkesan.

    BalasHapus
  4. Pastinya Garut gak hanya terkenal karena dodol, ya hehehe. Masih pengen banget saya main ke Garut. Terakhir ke sana, saya sekeluarga go show, gak pake booking penginapan. Akhirnya balik kanan karena semua penginapan penuh! Banyak wisatawan yang suka ke Garut. Memang komplit juga sih ya di sana. Kuliner hingga oleh-oleh produk kulit Sukaregang. Pelajaran bagi kami, kalau ke sana lagi terutama saat peak season, harus booking penginapan dulu.

    BalasHapus
  5. Saya belum pernah ke Garut nih. Baca artikel ini jadi makin pengen juga ngerasain vibe pemandangan dan eksplor areanya.

    BalasHapus
  6. Wah asik sekali akhir pekannya. Komplit. Garut memang selalu memesona, ada aja lokasi baru yang menarik untuk dikunjungi di Swiss Van Java ini. Pernah ke Sukaregang beli tas kulit. Sampai sekarang awet sekali. Bagus kualitas dan produksinya. Penasaran mau nyobain RM Lestari. Pedo jigana tuang didinya

    BalasHapus
  7. Garut memang semenyenangkan itu yaaa Kang Dede...sambil jalan-jalan sambil meet up dengan teman lama...masya Allah momen paling menyenangkan. Sambil memborong berbagai produk dari kulit sambil lanjut makan baso...asyik banget. Darajat pas tak boleh dilewatkan...ini sih destinasi wajib saat berkunjung ke Garut.

    BalasHapus
  8. Jadi ingat dulu waktu kecil ke bandung itu dingin banget sampai nggak berani mandi. Makanya paling enak kalau kolam renangnya itu air hangat ya, mas. Kalau Garut kayaknya dulu juga pernah ke sana tapi cuma 1 hari dan aku nggak terlalu ingat karena waktu itu masih sd

    BalasHapus
  9. Garut memang the best, banyak kulineran enak, kerajinan tangan yg mantap, landscape yang adem, tapi menuju ke sana macetnya minta ampun kalau naik mobil pribadi atau bus. Harus nyoba pakai moda KAI yg sekarang bisa langsung ke Garut ya? Btw Darajat Pass belum kesampaian aku ke sana, sepertinya bisa jadi pengobatan berendam di air hangat di sana.

    BalasHapus
  10. Garut memang selalu punya cara bikin orang jatuh cinta lewat hal-hal sederhan. Baca cerita perjalanan ini tuh rasanya hangat, kayak ikut healing tanpa harus benar-benar pergi.

    BalasHapus
  11. jadi penasaran pengen ke Garut juga :D

    BalasHapus
  12. Ya ampun sudah lama banget sejak terakhir kali saya main ke Garut, ke tempat pemandian air panasnya itu. Mana datangnya malam pula, jadi gak ngeh deh sama keadaan di sekitar area tersebut.

    Habis baca artikel ini jadi mikir sepertinya harus segera diagendakan main ke Garut lagi nih.

    BalasHapus
  13. Pernah ke Garut pas kondangan temen nikah. Udaranya sejuk, abis kondangan diajakin jalan-jalan ke situ Bangendit maa syaa Allah pemandangannya cantik banget.

    BalasHapus
  14. Seru banget ceritanya, Kak! Jadi ikut merasakan suasana liburan di Garut lewat tulisannya. Ceritanya mengalir, fotonya juga menarik, bikin pengen jalan-jalan ke sana juga. Terima kasih sudah berbagi pengalaman yang inspiratif!

    BalasHapus
  15. itu namanya rezeki mba, ketemu teman lama apalagi mantan atasan yang punya usaha sendiri, hehe. tapi bicara soal Garut, emang beda sih. walau saya belum pernah ke drajat pass, anak saya pernah bareng sekolahnya dan katanya "enakeun euy", hahaha. iyalah anak-anak mah suka-suka aja kalau urusannya sama per-air-an.

    BalasHapus