![]() |
| Bandros Ata Sukabumi (Dokumentasi Pribadi) |
Empat hari bertugas di Cibadak, Sukabumi, bukanlah waktu yang singkat. Bersama tim dari NGO tempat saya dan Deden bekerja—sebuah lembaga yang bergerak di bidang sosial kemanusiaan—kami menjalani agenda yang cukup padat.
Bertemu warga, berdiskusi, melakukan pendampingan, hingga memastikan program berjalan sesuai rencana. Lelah? Tentu. Tapi selalu ada kepuasan batin setiap kali bisa hadir langsung di tengah masyarakat.
Sabtu sore akhirnya menjadi momen pulang ke Bandung. Seperti yang sudah bisa ditebak, arus lalu lintas menuju Bandung padat merayap. Beberapa titik kemacetan bahkan membuat kendaraan nyaris tak bergerak.
Perut mulai terasa kosong karena kami belum sempat makan malam. Di tengah kondisi itu, saya langsung teringat satu nama: Bandros Ata. Kebetulan lokasinya masih satu arah menuju Bandung. Tanpa pikir panjang, saya mengajak Deden untuk mampir.
“Daripada terjebak macet dalam kondisi lapar, lebih baik isi tenaga dulu,” celetuk saya. Deden pun langsung setuju.
Vibes Sederhana yang Selalu Ramai
Bandros Ata memang berada di pinggir jalan. Dari luar terlihat sederhana, tidak berlebihan, bahkan cenderung apa adanya. Tapi justru di situlah daya tariknya.
Begitu sampai, suasananya sudah terasa hidup. Banyak pengunjung yang datang silih berganti. Ada yang sekadar nongkrong, ada yang datang bersama keluarga, ada pula yang seperti kami—singgah sejenak sebelum melanjutkan perjalanan jauh.
Aroma kelapa yang dipanggang langsung menyergap hidung. Hangat. Menggoda. Rasanya seperti disambut oleh suasana rumah sendiri.
Walaupun berada di tepi jalan, tempat ini punya vibes yang nyaman. Suasana sore yang mulai beranjak malam, udara Sukabumi yang perlahan terasa sejuk, ditambah hidangan hangat—kombinasi yang sulit ditolak.
Sejarah Singkat Bandros Ata
Bandros Ata dikenal sebagai salah satu kuliner legendaris di Sukabumi. Usaha ini awalnya dirintis sekitar tahun 1960-an sebagai jajanan tradisional dengan konsep sederhana. Konsistensi rasa dan kualitas menjadi kunci utama hingga akhirnya dikenal luas oleh masyarakat.
Nama “Ata” sendiri diambil dari nama pendirinya, yang sejak awal ingin mempertahankan cita rasa khas bandros tradisional Sunda. Dari yang awalnya hanya melayani pelanggan sekitar, kini Bandros Ata menjadi tempat singgah favorit warga lokal maupun pelintas luar kota.
Tidak heran kalau banyak yang menyebutnya sebagai salah satu ikon kuliner Sukabumi.
Varian Menu dan Range Harga
![]() |
| Menu Bandros Ata dan Minuman Hangat |
Menu di Bandros Ata memang cukup beragam, meskipun tetap menjadikan bandros sebagai bintang utamanya. Ada bandros original dengan cita rasa gurih kelapa yang klasik dan autentik, hingga varian kekinian seperti coklat, keju, coklat keju, susu, dan kacang yang menambah pilihan sesuai selera.
Setiap porsi dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau, berkisar antara Rp5.000 hingga Rp12.000 tergantung topping yang dipilih. Tak hanya itu, pilihan minumannya pun tak kalah lengkap, mulai dari teh manis panas atau es, kopi hitam, kopi susu, wedang jahe, bandrek, hingga susu hangat yang cocok menemani suasana sore menuju malam di Sukabumi.
Untuk minuman, harganya berkisar antara Rp5.000 sampai Rp15.000. Menurut saya pribadi, dengan rasa, suasana, dan nama besar yang sudah melegenda, harga tersebut benar-benar ramah di kantong dan terasa sangat sepadan.
Keunikan dan Ciri Khas Bandros Ata
Yang membuat Bandros Ata berbeda bukan hanya soal rasa, tapi juga soal pengalaman yang ditawarkan. Setiap bandros dibuat langsung di tempat menggunakan cetakan tradisional, sehingga pengunjung bisa menyaksikan sendiri prosesnya—mulai dari adonan yang dituangkan perlahan, dipanggang dengan sabar, hingga aroma kelapa yang semakin kuat tercium saat matang.
Sensasi fresh from the stove ini benar-benar menggoda dan otomatis meningkatkan selera makan bahkan sebelum gigitan pertama.
Ketika disantap, teksturnya terasa khas: bagian luar sedikit renyah, sementara bagian dalamnya lembut dan tetap hangat. Gurihnya pun pas, tidak berlebihan, sehingga nyaman di lidah dan tidak membuat eneg meskipun dinikmati lebih dari satu potong.
Konsepnya memang sederhana, namun justru di situlah letak daya tariknya. Ada nilai nostalgia yang kuat, seolah membawa kita kembali pada jajanan masa kecil, tetapi tetap hadir dengan sentuhan yang lebih modern dan relevan dengan selera masa kini.
Momen Sederhana yang Penuh Makna
Saya dan Deden duduk santai menikmati bandros yang masih mengepul hangat ditemani segelas minuman, sementara obrolan kami mengalir begitu saja tanpa beban.
Kami membahas pengalaman empat hari terakhir di Cibadak, cerita-cerita warga yang kami temui, sampai rencana kerja berikutnya yang sudah menanti.
Di tengah suasana sederhana itu, saya justru merasa momen seperti inilah yang paling berharga—bukan di ruang rapat formal, bukan pula di tempat mewah, melainkan di bangku pinggir jalan yang apa adanya, bersama makanan hangat dan teman seperjuangan.
Dalam hati saya sempat berujar, kadang yang kita butuhkan bukan tempat yang megah, tetapi tempat yang mampu menghangatkan hati.
Bagi saya, Bandros Ata bukan sekadar tempat makan, melainkan ruang jeda—tempat berhenti sejenak untuk mengisi tenaga dan pikiran sebelum kembali menghadapi kemacetan panjang menuju Bandung.
Secara pribadi, saya menilai Bandros Ata sangat layak disebut sebagai salah satu kuliner legendaris Sukabumi yang tetap konsisten menjaga rasa dan suasana. Bandrosnya gurih, legit, disajikan hangat, dan yang paling penting tidak bikin eneg meski dinikmati lebih dari satu porsi.
Harganya pun terjangkau, ramah di kantong siapa saja, baik pelajar, pekerja, maupun keluarga yang sekadar ingin menikmati camilan sore. Suasananya memang sederhana, berada di pinggir jalan, tapi justru di situlah letak kenyamanannya—tidak dibuat-buat, terasa akrab.
Tempat ini cocok untuk singgah sejenak saat perjalanan jauh, nongkrong santai bersama teman, atau menikmati wisata kuliner malam khas Sukabumi.
Kalau harus memberi penilaian, tanpa ragu saya beri lima dari lima bintang. Perjalanan pulang memang tetap diwarnai kemacetan, tapi setidaknya perut sudah terisi, hati terasa lebih ringan, dan energi kembali penuh untuk melanjutkan perjalanan menuju Bandung.
Setiap perjalanan selalu menyimpan cerita. Sering kali bukan soal seberapa cepat kita sampai di tujuan, melainkan tentang tempat-tempat singgah yang memberi makna di tengah perjalanan. Di Sukabumi, salah satu cerita hangat itu bernama Bandros Ata.
Tempat sederhana yang mungkin terlihat biasa dari luar, tapi mampu menghadirkan rasa yang tidak hanya hangat di lidah, melainkan juga di hati. Jika suatu hari Anda melintas dari Cibadak menuju Bandung, cobalah berhenti sejenak di sana. Siapa tahu, yang Anda temukan bukan sekadar jajanan tradisional yang lezat, tetapi juga momen kecil yang diam-diam membekas.
Karena pada akhirnya, dalam perjalanan hidup—seperti juga dalam perjalanan pulang—kita semua membutuhkan ruang untuk berhenti, menghangatkan diri, lalu melanjutkan langkah dengan semangat yang baru.





0 Komentar