Ad Code

DomaiNesia

Pelantikan Pengurus FEKRAF Bandung Barat 2024–2029: Haru Biru Perjalanan Saya Membersamai FEKRAF Sejak 2019

Pelantikan Pengurus FEKRAF Bandung Barat 2024–2029

Ada momen dalam hidup yang datangnya tidak selalu sesuai rencana, tapi justru terasa lebih bermakna karena perjalanan panjang di belakangnya. Salah satunya adalah ketika saya resmi dilantik menjadi pengurus FEKRAF Bandung Barat periode 2024–2029 pada 6 Februari lalu.

Buat sebagian orang, ini mungkin sekadar pelantikan organisasi. Tapi buat saya, ini seperti lingkaran yang akhirnya kembali ke titik awal—dengan cerita yang jauh lebih matang.

Forum Ekonomi Kreatif (FEKRAF) Bandung Barat bukan sekadar forum biasa. Ia adalah wadah, ruang diskusi, tempat bertemunya ide-ide liar, gagasan segar, dan orang-orang yang percaya bahwa kreativitas bisa menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

Kabupaten Bandung Barat punya potensi kreatif yang luar biasa. Dari pelaku UMKM, pegiat event, konten kreator, kriya, seni pertunjukan, sampai pelaku digital—semuanya punya peran. Dan FEKRAF hadir untuk menjembatani, menguatkan, sekaligus mengorkestrasi potensi itu agar lebih terarah.

Cerita yang Dimulai Sejak 2019 bersama FEKRAF 

Sedikit yang tahu, saya termasuk yang ikut terlibat dalam perumusan FEKRAF edisi perdana di tahun 2019. Waktu itu, di ruang Kabid Pemasaran Disparbud Bandung Barat bersama Pak Aji selaku Kabid Pemasaran, almarhum Teja Sukmana, Agung “Agrok”, dan Leli Suniarti, kami duduk bersama membahas hal-hal fundamental: nama, logo, sampai filosofi di baliknya.

Diskusi yang muncul justru tidak selalu serius. Kadang diselingi kopi, tawa, bahkan perdebatan kecil soal makna visual dan identitas. Tapi justru dari situ lahir sesuatu yang kami yakini punya ruh. Bagi saya pribadi, terlibat dalam fase awal itu adalah kebanggaan tersendiri. FEKRAF bukan sekadar organisasi yang “jadi”, tapi ia pernah melewati fase “dirancang”, “dipikirkan”, dan “diperjuangkan”.

Kenapa Tidak Jadi Pengurus di Periode Pertama?


Nah, ini bagian yang cukup unik dalam perjalanan saya. Saat pemilihan KSB FEKRAF periode 2019–2024 berlangsung, saya kebetulan harus berangkat menjalankan tugas sebagai tim liputan COE (Calendar of Event) dari Kemenpar RI ke Ternate.

Bangga karena dipercaya mengemban tugas nasional. Tapi di sisi lain, saya tidak bisa hadir dalam momentum penting internal FEKRAF. Alhasil, saya tidak masuk dalam jajaran pengurus periode pertama. Namun begitu, saya tidak pernah benar-benar jauh.

Selama periode 2019–2024, saya tetap hadir di berbagai kegiatan dan rapat internal FEKRAF. Ikut diskusi, bantu konsep, support publikasi, hingga terlibat dalam sejumlah agenda. Buat saya, kontribusi tidak selalu harus dibuktikan lewat jabatan. Yang penting adalah komitmen.

FEKRAF sudah seperti “rumah ide” yang sulit ditinggalkan begitu saja. Dan mungkin karena konsistensi itu, takdir mempertemukan saya kembali di periode berikutnya.

Vakum Hampir Dua Tahun, Lalu Dipanggil Lagi

Setelah masa periode 2019–2024 berakhir, FEKRAF sempat vakum selama kurang lebih dua tahun. Situasi yang cukup membuat banyak pihak bertanya-tanya, termasuk saya sendiri. Lalu datang kabar itu. Saya diminta kembali terlibat sebagai pengurus FEKRAF Bandung Barat periode 2024–2029.

Jujur, saya tidak menyangka. Tapi kali ini rasanya berbeda. Lebih matang, lebih siap, dan lebih sadar bahwa ini bukan soal nama, tapi amanah. 

Hari pelantikan itu akhirnya tiba, dan semuanya terasa hangat. Energinya positif. Aura orang-orang kreatif memang selalu beda—optimis dan penuh ide.

Dalam acara tersebut, pengurus FEKRAF Bandung Barat periode 2024–2029 resmi dikukuhkan oleh Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail. Momentum ini juga diberitakan di sejumlah media regional, menandakan bahwa pemerintah daerah memberi perhatian serius pada sektor ekonomi kreatif.

Saat nama saya disebut dalam susunan pengurus, ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Saya teringat kembali diskusi 2019, obrolan dengan almarhum Teja, perjalanan ke Ternate, hingga masa vakum yang penuh refleksi. Semua seperti terhubung.

Kreatif bukan hanya sekedar ide, tetapi kreatif itu tentang gerak

Bercengkrama dengan Buapti Jeje Ritchie Ismail

Salah satu momen yang cukup berkesan adalah ketika saya berkesempatan berbincang santai dengan Bupati Jeje Ritchie Ismail. Obrolannya tidak formal, lebih cair dan penuh semangat. Beliau menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan pelaku kreatif. Bahwa ekonomi kreatif bukan pelengkap, tapi sektor strategis yang bisa mendorong pertumbuhan daerah.

Saya menangkap satu pesan kuat: pemerintah membuka ruang, tapi komunitas kreatiflah yang harus mengisinya dengan karya dan gerakan nyata. Dan itu menjadi bahan bakar semangat tersendiri bagi saya. Menjadi pengurus FEKRAF 2024–2029 bukan tentang posisi struktural. Ini tentang tanggung jawab untuk menggerakkan, menyambungkan, dan menguatkan ekosistem kreatif di Bandung Barat.

Saya ingin FEKRAF tidak hanya hadir saat pelantikan atau seremoni, tapi benar-benar terasa manfaatnya oleh pelaku kreatif di lapangan. Mulai dari pendampingan, kolaborasi event, promosi produk, sampai digitalisasi UMKM kreatif—semuanya harus jadi agenda nyata, bukan sekadar wacana.

Perjalanan saya bersama FEKRAF mengajarkan satu hal penting: konsistensi itu selalu menemukan jalannya. Dari ikut merancang di 2019, absen saat pemilihan, tetap membantu tanpa jabatan, hingga akhirnya dilantik secara resmi di 2026—semuanya terasa seperti potongan puzzle yang kini lengkap.

Ke depan, tentu tantangannya tidak ringan. Tapi saya percaya, selama kita bergerak bersama dan tidak berhenti berkolaborasi, ekonomi kreatif Bandung Barat bisa naik kelas.

Buat teman-teman pelaku kreatif di luar sana, ini saatnya kita tidak hanya berkarya, tapi juga membangun ekosistemnya. Karena kreatif itu bukan cuma soal ide. Kreatif itu tentang gerak.

Posting Komentar

0 Komentar