Ad Code

DomaiNesia

Banyuwangi, Jejak Pertama Seorang Travel Blogger Menjelajahi Indonesia

Pantai Boom Banyuwangi 

Setiap perjalanan pasti memiliki cerita pertamanya masing-masing. Ada yang memulainya karena ajakan teman, ada yang berangkat karena sekadar ingin berlibur, dan ada pula yang justru berawal dari sebuah pekerjaan. Bagi saya, perjalanan pertama yang benar-benar mengubah cara pandang terhadap dunia traveling dimulai dari sebuah kota di ujung timur Pulau Jawa, yaitu Banyuwangi. Kota yang kala itu belum sepopuler sekarang di kalangan wisatawan, tetapi justru menjadi gerbang awal saya mengenal luasnya keindahan Indonesia.


Tahun 2018 menjadi salah satu tahun yang tidak akan pernah saya lupakan. Saat itu saya mendapat kesempatan bergabung sebagai Koordinator Lapangan (Korlap) Tim Liputan Calendar of Event (CoE) Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Tugas utama saya adalah mengoordinasikan tim peliputan dalam salah satu agenda wisata internasional bergengsi, yaitu International Tour de Ijen Banyuwangi (ITDB) 2018. Meski tujuan utama perjalanan ini adalah bekerja, dalam hati saya tahu bahwa perjalanan tersebut akan menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Siapa sangka, langkah menuju Banyuwangi justru menjadi langkah pertama saya sebagai seorang travel blogger yang kemudian berkesempatan menjelajahi berbagai sudut Indonesia.


Kalau mengingat perjalanan itu sekarang, saya sering tersenyum sendiri. Pasalnya, saat itu saya benar-benar "anak baru" dalam urusan bepergian menggunakan pesawat. Bahkan, saya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di bandara. Semua terasa asing. Mulai dari proses check-in, menyerahkan identitas, menimbang koper, mendapatkan boarding pass, hingga harus melewati pemeriksaan keamanan. Saya beberapa kali hanya memperhatikan penumpang lain dan mengikuti apa yang mereka lakukan agar tidak terlihat terlalu bingung.


Perjalanan dimulai dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Di ruang tunggu keberangkatan, rasa gugup bercampur penasaran memenuhi pikiran saya. Berkali-kali saya melihat ke arah landasan pacu sambil membayangkan bagaimana rasanya pesawat lepas landas. Saat nama penerbangan dipanggil dan saya mulai berjalan menuju pesawat Lion Air, rasanya seperti sedang membuka lembaran baru dalam hidup.


Ketika pesawat mulai bergerak menuju landasan dan mesin perlahan mengeluarkan suara yang semakin keras, jantung saya ikut berdegup lebih cepat. Beberapa detik kemudian, roda pesawat meninggalkan tanah dan perlahan Bandung terlihat semakin kecil dari balik jendela. Perasaan yang sulit dijelaskan muncul saat itu. Antara takjub, senang, sekaligus sedikit tegang. Saya baru menyadari bahwa dunia ternyata begitu luas ketika melihat hamparan awan dari ketinggian puluhan ribu kaki. Momen pertama naik pesawat itu masih menjadi salah satu kenangan paling berharga dalam perjalanan hidup saya.


Penerbangan pertama membawa saya menuju Bandara Juanda, Surabaya. Di sana saya harus transit selama kurang lebih dua jam sebelum melanjutkan perjalanan menuju Banyuwangi. Waktu transit itu saya manfaatkan untuk berjalan-jalan kecil di dalam terminal sambil menikmati suasana bandara yang begitu ramai. Sesekali saya memperhatikan pesawat yang datang dan pergi silih berganti. Rasanya seperti sedang berada di dunia yang benar-benar baru.


Di ruang tunggu menuju Banyuwangi, saya bertemu dengan salah satu rekan satu tim, Bang Kanzul, yang berasal dari Lombok. Pertemuan itu sebenarnya sangat sederhana, tetapi menjadi awal dari obrolan panjang yang membuat perjalanan berikutnya terasa jauh lebih menyenangkan. Kami berbincang mengenai pekerjaan, daerah asal masing-masing, hingga pengalaman traveling yang ternyata sangat berbeda. Sebagai orang yang baru pertama kali naik pesawat, saya lebih banyak mendengarkan cerita-ceritanya yang sudah cukup berpengalaman bepergian ke berbagai daerah.


Penerbangan kedua menggunakan pesawat ATR Wings Air menjadi pengalaman yang jauh lebih menegangkan dibanding penerbangan pertama. Ukuran pesawat yang lebih kecil membuat sensasi terbang terasa berbeda. Baru beberapa menit mengudara, pesawat beberapa kali mengalami turbulensi. Guncangannya cukup terasa hingga membuat saya sesekali menggenggam erat sandaran kursi. Bang Kanzul hanya tersenyum sambil berkata bahwa hal seperti itu cukup biasa terjadi. Meski begitu, bagi saya yang baru pertama kali mengalaminya, setiap guncangan terasa seperti perjalanan yang sangat panjang. Untungnya, sekitar 45 menit kemudian pesawat berhasil mendarat dengan mulus di Bandara Banyuwangi.


Sesampainya di Banyuwangi, kami langsung disambut oleh pemandu lokal dan beberapa anggota tim CoE yang sudah tiba lebih dulu. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju penginapan tempat seluruh tim berkumpul. Di sinilah saya mulai mengenal rekan-rekan dari berbagai daerah di Indonesia. Ada yang berasal dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Papua. Masing-masing memiliki latar belakang yang berbeda, mulai dari fotografer, videografer, penulis, jurnalis, hingga content creator. Perbedaan itulah yang justru membuat suasana selama tiga hari terasa begitu hangat dan penuh cerita.


Bagi saya, inilah salah satu hal paling berharga dari dunia traveling. Bukan hanya tentang destinasi yang dikunjungi, tetapi juga tentang orang-orang yang ditemui sepanjang perjalanan. Dari mereka saya belajar banyak hal, mulai dari budaya daerah, cara bekerja di lapangan, hingga pentingnya membangun relasi yang baik dalam dunia pariwisata. Sampai sekarang, beberapa di antara mereka masih menjalin komunikasi dan sesekali mengenang perjalanan pertama kami di Banyuwangi.


Agenda utama kami tentu saja meliput International Tour de Ijen Banyuwangi 2018, salah satu ajang balap sepeda internasional yang menjadi kebanggaan Kabupaten Banyuwangi. Ribuan masyarakat memadati jalan untuk memberikan semangat kepada para pembalap dari berbagai negara. Sebagai Korlap, saya harus memastikan seluruh tim bekerja sesuai pembagian tugas masing-masing. Meski cukup melelahkan, suasana kerja terasa sangat menyenangkan karena dilakukan di tengah destinasi wisata yang indah.


Di sela-sela kesibukan meliput, kami juga mendapat kesempatan mengunjungi beberapa destinasi unggulan Banyuwangi. Salah satu yang paling membekas tentu saja Kawah Ijen. Meski harus bangun dini hari dan menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, semua rasa lelah langsung terbayar ketika menyaksikan panorama pegunungan yang luar biasa indah. Udara yang sejuk, pemandangan alam yang masih alami, serta aktivitas para penambang belerang menjadi pengalaman yang membuka mata saya tentang kekayaan alam Indonesia.


Perjalanan kemudian berlanjut ke Pantai Boom, yang saat itu mulai berkembang menjadi ruang publik favorit masyarakat Banyuwangi. Kami juga mengunjungi Kampung Osing, tempat saya mengenal lebih dekat budaya masyarakat asli Banyuwangi yang masih terjaga hingga sekarang. Tak lupa, kami menyempatkan diri menikmati keindahan Pantai Pulau Merah dengan ombaknya yang terkenal di kalangan peselancar serta berfoto di De Djawatan, kawasan hutan trembesi yang suasananya begitu eksotis hingga sering dijuluki mirip hutan dalam film fantasi.


Perjalanan rasanya belum lengkap tanpa mencicipi kuliner khas daerah. Banyuwangi benar-benar memberikan pengalaman rasa yang berbeda. Saya mencoba Sego Tempong dengan sambalnya yang pedas menggigit, Pecel Pitik yang memiliki cita rasa khas dari parutan kelapa berbumbu, hingga Botok Tawon, kuliner unik yang mungkin belum tentu bisa ditemukan di daerah lain. Setiap hidangan memiliki cerita dan filosofi tersendiri yang semakin membuat saya jatuh cinta pada kekayaan kuliner Nusantara.


Kini, setelah bertahun-tahun berlalu dan puluhan daerah berhasil saya kunjungi, Banyuwangi tetap memiliki tempat istimewa di hati saya. Bukan semata-mata karena panorama alamnya yang indah atau kulinernya yang menggugah selera, melainkan karena kota inilah yang menjadi titik awal semua perjalanan itu dimulai. Dari perjalanan kerja yang sederhana, saya menemukan passion baru, memperluas jaringan pertemanan, dan semakin yakin bahwa Indonesia menyimpan begitu banyak cerita yang layak untuk dijelajahi.


Perjalanan ke Banyuwangi mengajarkan saya bahwa setiap langkah kecil bisa menjadi awal dari mimpi yang besar. Dari seorang yang gugup karena pertama kali masuk bandara hingga akhirnya terbiasa berpindah dari satu kota ke kota lainnya, semuanya berawal dari kota ini. Dan sampai hari ini, saya masih meyakini satu hal: pekerjaan paling menyenangkan memang ketika hobi dan passion bisa berjalan beriringan. Banyuwangi bukan sekadar destinasi pertama, melainkan halaman pertama dari buku perjalanan panjang saya sebagai seorang travel blogger Indonesia.

Posting Komentar

0 Komentar