Ad Code

DomaiNesia

Review Buku The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita, Buku yang Mengubah Cara Saya Memandang Traveling


Ada yang bilang kalau hobi traveling lahir dari sering melihat foto-foto indah di media sosial. Ada juga yang jatuh cinta pada perjalanan setelah merasakan liburan pertama ke luar kota atau luar negeri. Sementara itu, perjalanan saya mengenal dunia wisata justru dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: sebuah buku.


Tahun 2017 menjadi momen yang masih saya ingat hingga sekarang. Saat itu saya membeli sebuah buku berjudul The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita yang diterbitkan oleh Gagas Media. Awalnya saya hanya tertarik karena nama-nama penulisnya cukup familiar. Namun setelah halaman demi halaman saya baca, ternyata buku ini menawarkan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar cerita jalan-jalan.


Tanpa saya sadari, buku inilah yang perlahan mengubah cara pandang saya terhadap traveling. Dari yang awalnya hanya menganggap perjalanan sebagai aktivitas mengunjungi tempat baru, menjadi sebuah proses menemukan cerita, mengenal manusia, memahami budaya, hingga akhirnya membawa saya menekuni dunia travel blogging.


Ketika Satu Buku Menghadirkan Dua Belas Cara Melihat Dunia

Salah satu hal yang membuat The Journeys terasa begitu istimewa adalah konsepnya. Buku ini bukan ditulis oleh satu orang, melainkan menghadirkan 12 cerita perjalanan dari 12 penulis dengan latar belakang yang berbeda-beda.


Ada Trinity yang dikenal sebagai travel writer legendaris Indonesia. Ada Windy Ariestanty dengan gaya bertuturnya yang hangat. Ada Raditya Dika yang membawa humor khasnya ke dalam cerita perjalanan. Selain mereka, hadir pula para novelis, penulis skenario, hingga penulis yang memang menjadikan traveling sebagai bagian dari profesinya.


Perbedaan latar belakang tersebut justru menjadi kekuatan utama buku ini. Setiap penulis memandang perjalanan dengan caranya masing-masing. Tidak ada cerita yang terasa sama, meski semuanya berbicara tentang aktivitas bepergian.


Sebagai pembaca, saya merasa seperti diajak duduk bersama dua belas orang berbeda yang masing-masing memiliki kisah menarik untuk dibagikan.


Bukan Sekadar Destinasi, Tetapi Cerita di Baliknya

Hal lain yang membuat saya betah membaca buku ini adalah keberagaman destinasi yang diangkat.


Saya diajak menikmati birunya laut Karimunjawa, merasakan hiruk-pikuk New York City, menyusuri pasar pagi di Lucerne, hingga melihat sisi lain sebuah rumah sakit jiwa di Singapura. Ada pula kisah tentang ketenangan Shuili di Taiwan, keindahan Andalusia di Spanyol, warna-warni kehidupan masyarakat Senegal, cerita kepercayaan lokal di Soe, pengalaman mencari parfum impian di Mekah, hingga perjuangan membawa sebotol sambal ke Utrecht.


Yang menarik, setiap tempat tidak hanya digambarkan melalui panorama indahnya. Para penulis lebih banyak bercerita tentang pengalaman-pengalaman kecil yang justru membuat perjalanan terasa hidup.


Saya mulai menyadari bahwa destinasi hanyalah panggung. Tokoh utamanya adalah pengalaman yang terjadi selama perjalanan.


Setiap Penulis Memiliki Cara Bercerita yang Berbeda

Salah satu alasan saya tidak pernah merasa bosan membaca The Journeys adalah karena ritme ceritanya terus berubah mengikuti karakter penulisnya.


Ketika membaca tulisan Raditya Dika, saya beberapa kali tersenyum bahkan tertawa sendiri. Humor yang ringan membuat perjalanan terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.


Berbeda ketika membaca Trinity. Saya justru menemukan banyak sudut pandang baru tentang bagaimana menikmati sebuah perjalanan secara lebih mendalam. Gaya menulisnya sederhana, tetapi selalu berhasil membuat saya ingin segera menyiapkan ransel dan berangkat ke tempat baru.


Sementara Windy Ariestanty menghadirkan cerita yang lebih reflektif. Ia mengajak pembaca menyelami emosi yang sering kali muncul ketika berada jauh dari rumah.


Keberagaman gaya inilah yang membuat buku ini terasa sangat kaya. Seolah-olah saya sedang membaca dua belas buku sekaligus dalam satu sampul.


Buku yang Menjadi Titik Awal Perjalanan Saya

Jika harus memilih satu buku yang paling berpengaruh dalam perjalanan saya sebagai penulis blog wisata, maka jawabannya adalah The Journeys.


Buku ini merupakan buku bertema traveling pertama yang saya beli. Saat itu saya belum pernah membayangkan akan menulis artikel wisata secara rutin, apalagi menjadi seorang travel blogger.


Namun semakin sering membaca kisah-kisah dalam buku ini, saya mulai memahami bahwa perjalanan selalu memiliki cerita yang layak dibagikan. Tidak harus pergi ke luar negeri. Tidak harus mengunjungi destinasi terkenal.


Bahkan perjalanan sederhana ke kota sebelah pun bisa menjadi tulisan yang menarik jika mampu menangkap cerita di baliknya.


Dari sinilah saya mulai berani menulis pengalaman pribadi saat berkunjung ke berbagai destinasi wisata. Sedikit demi sedikit saya belajar menyusun cerita, bukan hanya menampilkan foto-foto indah.


Saya juga mulai memahami mengapa sosok seperti Trinity menjadi salah satu idola saya dalam dunia kepenulisan. Ia tidak hanya mengajak orang bepergian, tetapi juga mengajarkan bagaimana melihat dunia dengan lebih peka.


Traveling Bukan Tentang Seberapa Jauh Kita Pergi

Salah satu kutipan yang paling melekat dari buku ini berasal dari Buddha:


"It's better to travel well than to arrive."


Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi maknanya begitu dalam.


Perjalanan bukan sekadar mencapai tujuan akhir. Justru yang paling berharga adalah proses yang kita lalui sepanjang perjalanan itu sendiri.


Mungkin kita bertemu orang baru, mencicipi makanan yang belum pernah dicoba, tersesat di gang kecil sebuah kota, atau sekadar menikmati secangkir kopi sambil mengamati kehidupan masyarakat setempat.


Semua pengalaman kecil itulah yang akhirnya membentuk cerita.


Dan menurut saya, itulah pesan terbesar yang ingin disampaikan oleh The Journeys.


Kelebihan dan Sedikit Kekurangannya

Sebagai pembaca, saya merasa buku ini memiliki banyak kelebihan.


Bahasanya ringan sehingga mudah dinikmati siapa saja. Cerita-ceritanya tidak menggurui, justru terasa seperti mendengarkan teman yang baru pulang bepergian. Variasi penulis membuat buku ini tidak monoton, sementara pilihan destinasi memberikan inspirasi untuk mengenal berbagai belahan dunia.


Kalau ada kekurangan, mungkin hanya satu. Beberapa cerita terasa terlalu singkat. Saat mulai larut dalam kisah seorang penulis, tiba-tiba ceritanya sudah selesai. Rasanya seperti baru mulai menikmati secangkir kopi hangat, tetapi cangkirnya sudah kosong lebih dulu.


Namun mungkin justru di situlah daya tariknya. Buku ini membuat pembaca ingin terus mencari cerita perjalanan lainnya.


Penutup

Sudah hampir satu dekade sejak pertama kali saya membeli The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita. Hingga hari ini, buku tersebut masih tersimpan rapi di rak buku dan sesekali saya baca kembali ketika rindu akan suasana perjalanan.


Bagi saya, buku ini bukan sekadar kumpulan cerita traveling. Ia adalah pengingat bahwa setiap perjalanan selalu memiliki makna, sekecil apa pun langkah yang kita tempuh.


Jika Anda sedang mencari buku yang mampu menginspirasi untuk mulai bepergian, menulis, atau sekadar melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda, saya rasa The Journeys layak masuk dalam daftar bacaan.


Karena pada akhirnya, perjalanan terbaik bukanlah tentang seberapa jauh kita melangkah. Melainkan tentang bagaimana setiap langkah itu mampu meninggalkan cerita yang terus hidup, bahkan setelah kita kembali pulang.***


ℹ️ Informasi Buku


Judul Buku:

The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita


Penulis:

Buku ini merupakan antologi yang ditulis oleh 12 penulis Indonesia dengan latar belakang berbeda, di antaranya Trinity, Raditya Dika, Windy Ariestanty, serta Adhitya Mulya, Alexander Thian, Farida Susanty, Ferdiriva Hamzah, Gama Harjono, Okke ‘Sepatumerah’, Valiant Budi, Ve Handojo, Winna Efendi.


Penerbit:

Gagas Media


Jenis:

Antologi Nonfiksi – Travel Writing / Kisah Perjalanan


Jumlah Halaman:

254 halaman


ISBN:

978-780-481-X


Tahun Terbit:

Cetakan pertama, 2011

Cetakan kelima, 2013


Harga:

Harga saat pertama terbit: sekitar Rp48.500,-.

Saat ini buku sudah cukup sulit ditemukan dalam kondisi baru karena tidak selalu dicetak ulang. Jika tersedia di marketplace atau toko buku bekas, harganya umumnya berkisar antara Rp60.000 hingga Rp150.000, tergantung kondisi buku dan penjual.

Posting Komentar

0 Komentar