Penyandang disabilitas di Indonesia ternyata belum sepenuhnya merasakan "keuntungan" dengan adanya Undang Undang Nomor 2 tahun 2016 tentang Disabilitas. Dimana para penyandang disabilitas masih sulit memiliki akses dan kesempatan yang sama dengan orang-orang non difabel pada umumnya. Terutama dalam hal fasilitas umum maupun kesempatan untuk bekerja. Masyarakat masih melihat para penyandang disabilitas hanya secara visual, bukan dari skill maupun kemampuan mereka. 

Padahal banyak juga lho para penderita disabilitas yang mempunyai skill atau kelebihan yang tidak dimiliki orang-orang non disabilitas. Sebut saja nama Angkie Yudistia yang merupakan salah satu staf Presiden RI yang notabene merupakan penyandang tuna runggu sejak usia 10 tahun. Diluar negeri ada nama fisikawan Steven Hawking, penyanyi Stevie Wonders, atau bahkan aktris cantik Marlee Matlin. Ditengah keterbatasan, mereka mampu bersaing bahkan melejit melebihi orang-orang normal pada umumnya.

Meskipun begitu, jika melihat data dari Kementerian Koordiantor Bidang Perekonomian hingga Desember 2022, hanya 1.73 % dari total perusahaan yang ada di Indonesia yang mempekerjakan penyandang disabilitas, padahal pemerintah sudah menetapkan kuota untuk pekerja disabilitas. Hanya untuk informasi saja, sebanyak 80 persen penyandang disabilitas berada dalam rentang usia produktif di negeri ini. Hal ini menunjukkan perlunya lebih banyak dukungan dan kesadaran dari pihak swasta (perusahaan) dan dunia industri untuk menerapkan kuota pekerja disabilitas secara lebih konsisten.

Program XL Axiata Peduli Disabilitas Siap Kerja

Untuk tercipta dan terlaksananya pemberdayaan terhadap para penyandang disabilitas, diperlukan kolaborasi pentahelix atau 5 unsur stakeholder yakni meliputi pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan juga media. Mengingat pentingnya hal tersebut, XL Axiata melalui program XL AXIATA PEDULI yang merupakan salah satu program Corporate Social Responsibility (CSR) menjalankan fungsi dan perannya sebagai salah satu perusahaan telekomunikasi di Indonesia yang bertanggung jawab secara sosial terhadap stakeholders, dalam hal ini ekosistem disabilitas.

Program XL Axiata Peduli Disabilitas Siap Kerja merupakan satu program peningkatan kapasitas para penyandang disabilitas, sebagai tempat bagi para penyandang disabilitas mengasah keterampilan dan meningkatkan kompetensi khusunya di bidang digital agar siap untuk masuk di dunia kerja. Nantinya seluruh peserta yang terpilih berhak mengikuti pelatihan offline dan hybrid online zoom yang nantinya  akan diseleksi untuk mendapatkan kesempatan mengikuti program magang di kantor XL Axiata di Kota Bandung. Peningkatan kompetensi bagi ekosistem disabiltas menjadi prioritas dalam implementasi program CSR XL Axiata Peduli yang selaras dengan konsep DEI ( Diversity, Equity, &Inclusion).

Dan di hari Sabtu (10/08) kemarin, saya bisa ikut menghadiri kegiatan "XL Axiata Peduli Disabilitas Siap Kerja" yang diselenggarakan di Dilans Indonesia, Bandung. Bekerjasama dengan komunitas Bloggercrony, Yayasan Benih Baik, Tim Bisindo dan Aksesibilitas Surabaya, Rumah Difabel Sharaswaty, Feminis Themis, Yayasan Peduli Kasih Anak Berkebutuhan Khusus, Dilans Indonesia, serta Dewan Pengurus Pusat Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia. Yang diikuti oleh 30 peserta teman tuli dari Disabilitas dan Lanjut Usia (Dilans).

Dan kegiatan peningkatan kapasitas "XL Axiata Peduli Disabilitas Siap Kerja" ini dihari pertama diisi oleh Akbar Muhibar salah seorang dosen multimedia dan juga fasilitator digital Bloggercrony, yang memberikan materi tentang Dokumentasi Audiovisual dan Event. Dimana dalam pemaparannya, mas Akbar memberikan pengenalan fungsi dokumentasi visual kepada para peserta. Nantinya diharapkan para peserta mampu menerapkan kemampuan dalam dokumentasi audiovisual didalam lingkungan kerja.

Para peserta yang hadir pun terlihat antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Terlihat antusiasme yang tinggi ketika para peserta diminta untuk membuat sebuah tugas dokumentasi diseputar lokasi acara ini. Dan memang, ketika tugas hasil dokumentasi mereka dikumpulkan, banyak sekali hasil foto-foto mereka yang menarik bahkan mendapat pujian langsung dari mas Akbar. Saya pun sangat tertarik dengan kemampuan mereka dalam pengambilan dokumentasi melalui foto serta caption yang diangkat.

Program pelatihan ini nantinya diharapkan dapat meningkatkan potensi dan rasa percaya diri individu dengan disabilitas dalam dunia kerja agar mampu terlibat dalam memberi partisipasi bermakna di lingkungannya, serta mampu berinisiatif serta setara dalam dunia kerja. Dan juga bisa meningkatkan kapasitas, keterampilan dan pengalaman para penyandang disabilitas dalam bekerja, terkhusus pada bidang komunikasi, kehumasan dan perkantoran.