Akhir tahun 2025 kemarin rasanya jadi momen yang pas banget untuk sejenak menarik napas dari rutinitas. Apalagi bertepatan dengan liburan sekolah anak-anak. Di tengah kesibukan masing-masing, keluarga besar Yayasan Amal Baik Insani akhirnya sepakat untuk bikin satu agenda sederhana tapi bermakna: family gathering bareng ke Cikao Park Purwakarta.
Bukan cuma soal jalan-jalan atau main air, tapi tentang bagaimana kami ingin menghadirkan ruang kebersamaan, di mana anak-anak bisa tertawa lepas dan para orang tua bisa duduk santai sambil menikmati waktu bersama. Dan seperti biasa, cerita seru justru sudah dimulai sejak roda mobil mulai berputar.
Pagi itu, tepat pukul 08.30 WIB, kami berkumpul di Kantor Amal Baik Insani. Ada sekitar lima mobil yang siap berangkat secara konvoi. Wajah-wajah penuh semangat, anak-anak yang sudah tak sabar, dan para orang tua yang sibuk memastikan bekal serta barang bawaan tidak ada yang tertinggal. Suasananya benar-benar terasa seperti mau mudik, padahal cuma liburan bareng.
Rute yang kami pilih cukup menyenangkan. Dari Rajamandala, kami bergerak ke arah Cipeundeuy, lalu melewati kawasan Waduk Cirata yang selalu punya pemandangan khas. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke Plered dan terus mengarah ke Sukatani, lokasi Cikao Park berada. Sepanjang jalan, pemandangan perbukitan dan hamparan hijau jadi hiburan tersendiri, apalagi buat yang duduk santai di kursi penumpang.
Namun, namanya juga perjalanan, pasti ada bumbu dramanya. Di beberapa titik, hujan turun cukup deras. Beberapa mobil mulai menunjukkan “ngambek”, terutama wiper kaca yang tiba-tiba tidak bekerja maksimal. Alhasil, konvoi sempat beberapa kali berhenti untuk memastikan semua kendaraan aman dan bisa melanjutkan perjalanan. Tapi justru di momen-momen seperti itu, rasa kebersamaan terasa makin kuat. Tidak ada yang ditinggal, tidak ada yang terburu-buru. Semua saling menunggu, saling bantu.
Sekitar pukul 11.30 WIB, akhirnya kami tiba di Cikao Park Purwakarta. Rasa lega langsung terasa. Anak-anak sudah mulai tidak sabar ingin turun dan menjelajah. Begitu keluar dari mobil, udara segar dan suasana liburan langsung menyambut. Rasanya seperti benar-benar sudah meninggalkan penat rutinitas.
Kami langsung diajak berkeliling ke kebun binatang mini yang lokasinya tak jauh dari area parkir. Di sini, anak-anak terlihat paling antusias. Ada berbagai jenis hewan yang bisa dilihat dari dekat. Ada yang sibuk menunjuk, ada yang tertawa, ada juga yang sedikit takut tapi penasaran. Bagi mereka, ini bukan sekadar melihat hewan, tapi petualangan kecil yang penuh cerita.
Karena cuaca mulai kembali gerimis, kami memutuskan untuk berpindah ke area kolam. Salah satu yang paling menarik tentu saja kolam berombak, yang sensasinya mirip berada di laut. Ombaknya datang dan pergi, membuat anak-anak berteriak kegirangan. Hampir tiga jam lamanya kami bermain di berbagai kolam dan wahana air yang ada. Dari anak kecil sampai orang dewasa, semuanya larut dalam keseruan yang sama.
Setelah puas bermain air dan berganti pakaian, perut mulai mengirimkan sinyal lapar. Kami pun menuju Castle Cafe, yang berada di area gerbang depan Cikao Park. Tempat ini punya konsep unik dengan nuansa kastil ala kerajaan. Bangunannya estetik, cocok jadi spot foto, dan suasananya nyaman untuk beristirahat.
Di sinilah kami akhirnya duduk bersama, menikmati hidangan sambil berbagi cerita. Ada yang tertawa mengingat momen hampir terpeleset di kolam, ada yang membahas betapa serunya perjalanan tadi pagi. Makan terasa lebih nikmat karena dinikmati bersama, tanpa terburu-buru, tanpa tekanan waktu.
Family gathering ini terasa lebih dari sekadar liburan. Di tengah perjalanan, di tengah hujan dan wiper yang bermasalah, di tengah tawa anak-anak dan obrolan orang dewasa, ada rasa hangat yang sulit dijelaskan. Kami bukan hanya satu rombongan wisata, tapi satu keluarga besar yang sedang membangun kenangan.
Menjelang sore, kami pun bersiap pulang. Cikao Park dan Castle Cafe meninggalkan kesan yang menyenangkan. Tapi yang paling berharga tentu saja cerita yang kami bawa pulang. Cerita tentang kebersamaan, tentang perjalanan yang tidak selalu mulus tapi selalu bermakna.
Dan semoga, suatu hari nanti, kami bisa kembali membuat perjalanan serupa—dengan rute yang sama, atau mungkin tujuan yang berbeda, tapi dengan rasa kekeluargaan yang tetap sama.






0 Komentar